Yogyakarta — Mengajak masyarakat untuk berani mencari bantuan kesehatan mental tidak cukup apabila sistem pelayanan belum mampu menerima, mendengarkan, dan mendukung mereka tanpa stigma. Ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan juga belum menjamin bahwa setiap orang dapat mengakses layanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Di balik akses tersebut, terdapat hambatan sosial, budaya, struktural, dan institusional yang perlu mendapat perhatian.
Persoalan tersebut menjadi pokok diskusi dalam webinar “Stigma and Accessibility to Quality Mental Health Service”yang diselenggarakan pada Senin (12/10/2026) melalui Zoom. Kegiatan ini merupakan kerjasama antara the Equity Initiative Indonesia bersama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober, dengan mengangkat tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change”. Webinar ini mempertemukan perspektif peneliti, praktisi, aktivis, dan akademisi untuk membahas keterlibatan orang dengan pengalaman langsung, kesetaraan kesehatan mental, stigma dalam sistem pelayanan, serta keberlanjutan kerja-kerja perawatan dan aktivisme.
engan menjelaskan posisi FMEA dan RCA dalam manajemen risiko. FMEA digunakan sebagai pendekatan proaktif untuk mengidentifikasi potensi kegagalan sebelum insiden terjadi, sedangkan RCA lebih banyak digunakan secara reaktif untuk menganalisis akar penyebab setelah suatu kejadian terjadi. Melalui FMEA, fasilitas kesehatan tidak perlu menunggu insiden untuk melakukan perbaikan, tetapi dapat mengenali risiko dan memperbaiki proses sejak dini.
Pelatihan diawali dengan pemaparan perspektif global PCC oleh Eva. PCC diperkenalkan sebagai pendekatan yang menempatkan kebutuhan, nilai, preferensi, dan tujuan pasien sebagai bagian penting dalam proses pelayanan dan pengambilan keputusan. Penerapannya bukan hanya bergantung pada tenaga kesehatan, melainkan juga membutuhkan perubahan sistem, dukungan organisasi, pendidikan dan pelatihan, serta lingkungan yang memungkinkan tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang berpusat pada pasien.
PKMK-Yogyakarta. Divisi Manajemen Mutu PKMK FK-KMK UGM kembali menyelenggarakan Webinar Mutu Corner #5 bertajuk “Bagaimana Organisasi Belajar dari Insiden: Jalan Menuju Perbaikan Sistem Pelayanan”. Webinar ini dimoderatori oleh Andriani Yulianti, MPH, peneliti PKMK FK-KMK UGM, dan menghadirkan dr. Tjahjono Kuntjoro, MPH, DrPH, FISQua, CRP serta dr. Yael Esthi Nurfitri Kuncoro, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, FISQua, CRP sebagai narasumber. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat pemahaman bahwa setiap insiden keselamatan pasien harus menjadi sumber pembelajaran yang mendorong perbaikan sistem pelayanan kesehatan secara berkelanjutan.